Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Belanja Jangan Berlebihan

JEMAAH haji asal Indonesia, memang terkenal paling suka belanja. Itu pula yang menyebabkan, jemaah haji asal Indonesia begitu dikenal oleh hampir semua pedagang di Pasar Seng dan pasar-pasar lain di Kota Mekah maupun Medinah. Mereka mengenal jemaah Indonesia, sebagai jemaah yang doyan belanja yang sering membelanjakan riyal mereka.
JIKA sedang berada di Madinah, sempatkan untuk membeli kurma langsung ke kebunnya di pinggiran kota. Di kota ini, kurma terbilang murah dan kualitasnya pun cukup bagus.* WAWAN DJUWARNA/"PR"
Karena jemaah Indonesia merupakan ladang duit, para pedagang pun sengaja belajar bahasa Indonesia atau mempekerjakan orang Indonesia agar banyak jemaah haji Indonesia yang mampir ke tokonya serta membelanjakan uang mereka tanpa banyak menawar. Oleh karena itu, kita tidak perlu repot-repot kursus bahasa Arab jika akan belanja di Saudi Arabia. Mereka bahkan yang aktif belajar bahasa Indonesia.

Saat mengantar teman membeli jam di kawasan Hafair Kota Mekah, musim haji 1427 H, seorang pedagang asal Bangladesh menawarkan jam tangan seharga 350 riyal. Teman saya sebenarnya sudah berani membayar 300 riyal karena jamnya memang terlihat unik. Namun, saya tidak mengenal merek dan menduga jam itu jam murahan, saya membantu menawarkannya 50 riyal.
Ia memang terlihat seperti marah. Harga 350 riyal ditawar 50 riyal. Kalau dalam bahasa Sunda mungkin ia mengatakan, "Maenya barang alus kieu, ditawar sakitu. Mani teu kira-kira," kata si Bangladesh. Karena kami tetap pada penawaran awal, akhirnya ia memanggil lagi kami berdua yang sudah ngeloyor pergi. Akhirnya jam itu jadi dibeli 55 riyal. Teman saya pun sejak saat itu lebih hati-hati lagi. "Bisa-bisa kita tertipu," katanya.
Dalam membeli barang, sebaiknya kita harus lihat-lihat dulu pedagangnya berasal dari negara mana. Kalau orang Arab asli, mereka kebanyakan menetapkan harga pas. Terkadang barang seharga 150 riyal, ditawar 140 riyal pun, jarang diberikan. Namun, itu pun tidak semua orang Arab Saudi seperti itu. Pedagang emas di Madinah, yang sebagian besar merupakan orang-orang Arab Saudi, masih bisa juga dinegosiasi walaupun turunnya hanya beberapa puluh riyal saja. Akan tetapi, kalau pedagang dari Bangladesh, Pakistan, atau Afganistan, kita boleh bebas menawar karena mereka pun sering menawarkan dagangannya dengan harga yang kelewatan mahal.
Belanja di tanah suci, juga harus hati-hati. Banyak barang palsu dan barang tiruan yang dijual bebas. Bahkan di toko-toko elite sekalipun, minyak wangi palsu dan jam tangan murahan, bisa ditemukan. Oleh karena itu, perlu kejelian kita meneliti apakah barang itu asli, palsu, atau tiruan. Apalagi harga yang ditawarkan, terkadang membuat kita menduga barang itu asli. Apalagi kalau ditanya, mereka selalu bilang original.
Rekan saya sempat membeli minyak wangi yang biasa ia pakai. Harganya sih tidak terlalu jauh berbeda. Namun karena teman lain bilang cukup murah, kepincut juga untuk membelinya. "Itung-itung oleh-oleh dari Timur Tengah," katanya. Apalagi minyak wangi Arab terkenal. Namun begitu sampai di tanah air, ketahuan minyak itu palsu. Sulit memang membedakan yang asli dan palsu. Baru ketahuan setelah dicium, baunya beda.
Survei barang
*Oleh karena itu, jika akan belanja oleh-oleh haji, sebaiknya survei dulu harga-harga barang-barang di tanah air. Jika harganya di Saudi Arabia, jauh lebih murah, boleh beli. Itu pun dalam jumlah secukupnya. Sebab, seorang jemaah haji, hanya diperbolehkan membawa satu koper haji dengan berat 35 kg dan satu tas tenteng. Kalau lebih, bisa ditahan di bandara saat kepulangan nanti. Apalagi tahun ini, pengawasan terhadap barang bawaan ini lebih diperketat.
Tahun lalu pun saat belum begitu ketat, khusus untuk pesawat maskapai penerbangan Saudi Arabian Airlines. Petugas begitu ketat memeriksa barang bawaan jemaah. Dua hari sebelum kepulangan, petugas yang ditunjuk maskapai penerbangan itu, sudah datang ke pemondokan-pemondokan haji untuk menimbang barang. Kalau lebihnya hanya dua tiga kilogram, masih ditoleransi. Namun, kalau sudah di atas 40 kg, langsung dipisahkan dan disuruh dikurangi.
Kalau memang kita punya sisa riyal banyak, boleh belanja lebih banyak. Akan tetapi, harus dilakukan minimal dua minggu sebelum kepulangan. Barang harus dikirim melalui perusahaan kargo, tetapi lagi-lagi, perlu mempertimbangkan ongkos. Satu kilogram, ongkosnya RS 9. Jadi kalau kita mau mengirim 50 kg barang saja, kita harus menyediakan ongkos RS 450 (Rp 1,125 juta). Jika barang serupa bisa dibeli di tanah air walaupun harganya lebih mahal sedikit, lebih baik tidak repot-repot membelinya di Saudi.
Sebab belanja oleh-oleh di Saudi Arabia selain merepotkan dan bisa mengganggu kekhusyukan ibadah haji kita, juga ada risiko. Tidak sedikit barang yang dikirim lewat perusahaan kargo, hilang entah terkirim ke mana. Atau kalau pun sampai, tiba setelah beberapa bulan kemudian. Karena itu pula memilih perusahaan kargo pun harus hati-hati. Jangan tergiur ongkos murah, malah barang hilang entah ke mana. Sebaiknya tanya teman atau pembimbing, lewat perusahaan mana barang bisa cepat dan aman tiba di tanah air.
Jika kita menemukan barang yang diinginkan, jangan langsung membeli. Survei ke beberapa toko, untuk mencari barang termurah. Barang di Pasar Seng, bukan jaminan harga di tempat itu lebih murah dibandingkan dengan di tempat lain. Tidak sedikit barang di Pasar Seng justru lebih mahal.
Pernah seorang teman begitu kepincut saat menemukan jam kantong dengan tali rantai seharga RS 15. Ia pun memborong 10 jam itu dan dengan bangganya ia bercerita kepada teman-temannya bahwa dia baru saja menemukan jam murah. Satu jam "antik" dan jarang ditemukan di tanah air dijual dengan harga Rp 37.500,00. Namun, belakangan saya malah menemukan jam yang sama dengan harga yang jauh lebih murah, hanya RS 5. "Rp 12.500,00?" tanyanya seperti tak percaya. "Batu baterainya saja di Bandung, harganya Rp 15.000,00," katanya, menyesal. (Wawan Djuwarna/"PR")***  Selanjunya...