Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Nikmatnya Jumatan di Raudah

TIGA kali teman saya menanyakan apakah saya sudah berhasil berdoa dan salat di Raudah. Begitu pentingkah sehingga ia seperti selalu mengingatkan saya untuk salat di Raudah? Tentu. Sebab, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim pun, Raudah digambarkan sebagai tempat yang istimewa. "Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman-taman surga dan mimbarku berada di atas telagaku." Begitulah sabda Rasulullah saw seperti dalam hadis Bukhari dan Muslim.

Bekas rumah Rasulullah sendiri sekarang sudah masuk bagian dari Masjid Nabawi sehingga tempat yang ditunjuk oleh Nabi tentu saja sudah masuk ke dalam bagian dari Masjid Nabawi. Tempat yang disebut Raudah inilah merupakan tempat favorit jemaah haji untuk melaksanakan salat. Di tempat inilah segala doa yang Insya Allah akan dikabulkan oleh Allah SWT. Itu pula yang menyebabkan teman saya sampai tiga kali mengirim SMS dan menanyakan hal itu.
Sejak dari tanah air pun saya memang sudah punya keinginan kuat untuk bisa berjuang masuk ke dalam tempat istimewa itu. Saya bisa katakan berjuang karena untuk bisa masuk ke Raudah memang butuh perjuangan. Tidak mudah memang sebab banyak pula jemaah dari penjuru dunia yang juga sama-sama ingin berdoa dan salat di tempat ini. Oleh karena itu, saya pun baru berhasil mencapai tempat ini setelah diantar pembimbing dan mengikuti trik khusus yang disampaikan teman saya di tanah air.
Kalau mau ke Raudah, saran teman saya tadi, jangan pada saat Masjid Nabawi sedang penuh dengan jemaah, tetapi saat jemaah pulang ke pemondokan, kita justru berangkat ke Raudah. Teman tadi menyarankan setelah salat Zuhur, jangan pulang dan ngajanteng (berdiri) di depan pintu masjid. Begitu akan berkumandang azan salat Asar, pintu masjid dibuka dan saat itulah saya masuk dan langsung berebut tempat di Raudah sehingga bisa salat dan berdoa di tempat itu. Bukan hanya salat sunat, tentunya, salat Asar, Magrib, hingga Isya pun saya lakukan di tempat itu.
Di Madinah, memang tidak terlalu banyak tempat yang mustajab untuk berdoa seperti di Mekah Al-Mukaramah. Oleh karena itu, salat di Raudah menjadi amat istimewa. Itu yang menyebabkan tempat ini menjadi incaran ratusan ribu jemaah yang sedang berada di Madinah. Salat di Masjid Nabawi sendiri nilainya kata ustaz pembimbing saya, sama dengan 10.000 kali dibandingkan salat di masjid yang lain. Dan salat di Masjidilharam Mekah setara dengan 100.000 salat di masjid-masjid lain.
Oleh karena itu, tidak heran kalau beberapa jam sebelum Masjid Nabawi dibuka pada pukul 3.00 dini hari waktu setempat pun, di tengah udara yang sangat dingin menusuk tulang, jemaah haji sudah banyak berkerumun di sekitar pintu Baabussalam. Sebagian jemaah berkerumun di sayap kiri Masjid Nabawi bagian depan. Sambil menunggu masjid dibuka, mereka salat tahajud, berzikir, berdoa, dan sejumlah jemaah lainnya asyik berdiskusi dengan sesama Muslim lainnya yang satu negara tentunya.
Selain menjelang subuh dan asar, waktu yang tempat untuk bisa masuk dengan mudah ke Raudah adalah setelah salat Isya. Ketika orang lain pulang dari masjid, kita berangkat ke masjid. Kira-kira menjelang tengah malam, Raudah agak kosong sehingga kita bisa dengan mudah masuk untuk salat dan berdoa di tempat itu. Oleh karena itu, hanya jemaah yang tahu trik ini yang akan lebih sering bisa masuk ke Raudah. 
Jumatan di Raudah
Jemaah haji Indonesia gelombang I dipastikan akan langsung menuju Madinah. Selama 8-9 hari, para jemaah akan berada di Madinah untuk salat Arbain (salat berjemaah 40 waktu berturut-turut) dan ziarah ke berbagai tempat bersejarah di Kota Madinah, termasuk ke kebun kurma dan ke tempat pembuatan Alquran. Kitab Alquran produksi Madinah ini terkenal karena selain tulisannya indah-indah juga dicetak dengan tinta kualitas bagus pada kertas yang bagus pula. Itu sebabnya, banyak jemaah yang membeli Alquran produksi Madinah.
Karena di Madinah ini, kita tinggal hanya 8 hari, maka selama di sana kita hanya akan bertemu satu kali dengan hari Jumat, kecuali yang tiba di Madinah menjelang azan zuhur di hari Jumat. Tentunya, hal ini perlu menjadi catatan bagi para jemaah untuk memanfaatkan agar bisa merasakan salat Jumat di Raudah. Ini, perlu kita ingat karena terkadang hal ini terlupakan. Kita melakukan salat Jumat di Masjid Nabawi, tetapi ketika sudah selesai kita baru terpikir, duh, kenapa tadi tidak salat Jumat di Raudah, sementara Jumat depan sudah berangkat ke Mekah atau pulang ke tanah air.
Hari Jumat itu, saya sudah tujuh hari berada di Madinah, bersama dengan seorang teman, saya sengaja pergi ke masjid lebih awal. Pukul 8.30 waktu setempat, kami sudah berangkat ke Masjid Nabawi. Tujuannya menuju Raudah untuk bisa salat jumatan di tempat itu. Kalau berangkat menjelang azan, jelas tidak akan kebagian tempat di Raudah. Sebab tempatnya kecil, sementara yang ingin salat di tempat itu begitu banyak.
Selama berangkat ke masjid, kami ngobrol dan bertanya-tanya, apakah kami berdua akan mendapat tempat di Raudah? Apa yang akan dilakukan jika sudah mendapat tempat di Raudah, tetapi kami tiba-tiba ingin buang air kecil? Sebab, kalau pergi ke WC, sudah dipastikan, tempat yang kami duduki akan ada yang mengisi. Semua keraguan itu berkecamuk dalam hati. Namun, semuanya kami jawab dengan rasa ikhlas dan berserah diri kepada Allah.
Sekira pukul 9.00 waktu setempat ternyata para jemaah dari berbagai negara sudah banyak menungggu di pintu masuk Masjid Nabawi. Menjelang pintu masjid dibuka, kerumunan jemaah makin padat. Terjadi saling dorong. Di sinilah, kami rasakan perjuangan terasa amat berat saat menanti masuk ke Raudah.
Begitu pintu dibuka, para jemaah pun berhamburan masuk Raudah. Dengan saling bergandeng tangan kami bergegas seperti bersaing dengan jemaah dari negara lain yang lebih kuat dan tinggi yang juga sama-sama berjuang untuk bisa jumatan di Raudah. Alhamdulillah, kami mendapat tempat di saf ketiga persis di belakang imam. Dua jam lebih sambil menunggu tiba salat Jumat, kami bisa salat sunat, berzikir, berdoa, dan membaca Alquran. Sungguh ini merupakan pengalaman yang tidak mudah kami lupakan. Kami bisa "berpesta doa" di tempat ini di hari Jumat. (Suherlan/”PR”)*** Selanjunya...