Arab Saudi saat ini tengah mengalami musim pancaroba, dari musim panas menuju musim dingin. Siang hari panas begitu terik dan matahari menyengat kulit, sementara malam udaranya membuat tubuh menggigil kedinginan.
”Bahkan akibat cuaca dingin, banyak jemaah yang terkena mimisan, keluar darah dari hidung. Setidaknya, hidung terasa sangat kering dan mengeras,” kata wartawan Media Center Haji (MCH) Ali Azwar kepada ”PR”, Kamis (22/11) malam.
Dilaporkan suhu Madinah tercatat maksimum 31 derajat Celsius, namun malam hingga subuh suhu turun drastis sampai 13 derajat Celsius. Sementara udara di Mekah maksimum 35 derajat Celsius, minimum 22 derajat Celsius, dan Jeddah maksimum 33 derajat Celsius, minimum 17 derajat Celsius.
Diungkapkan, kelembapan udara maksimum 87 persen dan minimum 17 persen. Secara perlahan, suhu udara cenderung terus menurun.
Digambarkan, selain panas terik di siang hari, udara Kota Madinah Al-Munawarah juga berdebu. Banyak bangunan di sekitar Masjid Nabawi yang tengah mengalami pembongkaran. Apalagi angin yang bertiup kencang menambah kencangnya debu beterbangan.
”Oleh karena itu, petugas haji terus mengingatkan jemaah untuk selalu mengenakan masker saat berada di luar ruangan. Dengan mengenakan masker, jemaah diharapkan terhindar dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui udara,” kata Azwar.
Di malam hari, udara secara perlahan melorot dari 30 derajat di siang hari menjadi 20 derajat, 15 derajat, bahkan kadang mencapai 10 derajat di pagi hari.
Oleh karena itu, jemaah diimbau selalu mengenakan jaket di malam hari. Mereka juga terus diingatkan untuk minum dalam satu jam sekali. Sebab, dalam keadaan dingin, jemaah seringkali merasa tidak haus.
”Karena udara di Arab Saudi sangat kering, jemaah yang kurang minum bisa mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, jemaah terus didorong untuk minum, supaya tetap fit dan dapat beribadah dengan baik,” ujar Azwar.
Situasi yang sama diungkapkan anggota Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Yaya Roesmana. Menurut dia, cuaca di Kota Madinah begitu dingin.
"Saat kami datang, Selasa (18/11), suhu udara berkisar 24-26 derajat. Namun tiap hari turun dan Kamis hari ini mencapai 12 derajat, sehingga banyak jemaah yang mimisan, keluar darah dari hidungnya," ungkap Yaya, yang tergabung dalam Kloter 1 Kota Bandung.
Namun, udara dingin tidak menghalangi jemaah Kota Bandung untuk beribadah. Selain tetap khusyuk menyelesaikan salat Arba’in di Masjid Nabawi, jemaah juga tetap rajin berziarah ke berbagai tempat bersejarah, seperti ke Masjid Quba, Masjid Bilal, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, percetakan Alquran, dan sebagainya.
"Suhu bulan Desember diperkirakan akan semakin dingin karena Desember merupakan puncak musim dingin," ungkap Yaya.
Di tengah musim pancaroba, jemaah yang saat ini masih terkonsentrasi di Madinah tetap antusias melaksanakan salat berjamaah di Masjid Nabawi.
Di Kota Rasul ini, jemaah tinggal selama delapan hari untuk melaksanakan salat fardu secara berjamaah, sehinga mencapai 40 kali berjamaah secara berturut-turut. Salat berjamaah secara berturut-turut inilah yang disebut salat Arba’in.
Jika mereka sudah tinggal selama delapan hari, jemaah meninggalkan Madinah dengan mengenakan kain ihram menuju Kota Mekah. (A-79)*** Selanjunya...