Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Trik Aman Memotret Kabah


IQBAL, Bilal, dan Iput, tiga kakak beradik warga Margahayu Raya difoto memakai kamera HP dengan latar belakang Kabah. Foto ini akan menjadi kenang-kenangan yang tidak mungkin terlupakan bagi mereka.* ENDANG SUPRIATNA/"PR"
SAAT pulang haji, bukan hanya oleh-oleh yang dibawa, tapi juga cerita perjalanan selama di tanah suci. Foto maupun video selama perjalanan ibadah haji memang penting untuk kenang-kenangan dan bahan cerita bagi sanak saudara serta teman di tanah air.

Namun, karena tidak semua tempat diperbolehkan untuk difoto, kita harus menyiasatinya. Jika tidak tahu triknya, jangankan bisa mendapatkan gambar, malah kamera dirampas dan dibanting askar. Selain memotret harus tersembunyi, kita juga harus bisa "menyelundupkan" kamera ke dalam Masjidilharam.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melarang orang memotret Kabah. Bukan karena haram. Tapi kalau itu diizinkan, tawaf pun akan kacau. Bayangkan, ratusan ribu yang sedang mengelilingi Kabah nanti terus-menerus menjepretkan kamera dan banyak jemaah yang berhenti di depan Kabah untuk diambil fotonya.
Namun, walaupun dilarang, orang selalu "ngakal" untuk bisa mengambil gambar di depan Baitullah ini. Mengapa banyak jemaah begitu besar keinginannnya memotret di depan Kabah? Sebab, semua umat Muslim selalu merindukan bangunan yang didirikan Nabi Ibrahim a.s. ini. Karena itu berpose di depan Kabah akan begitu besar nilainya dibandingkan dengan foto di tempat-tempat lain.
Memotret Kabah
Saya dan seorang teman memang termasuk jemaah yang "ngakal". Tempat-tempat terlarang pun sempat saya ambil gambarnya. Itu karena tertangtang beberapa teman di tanah air. Teman tadi memperlihatkan foto diri sedang membelakangi Kabah. Ia pun memberikan kiat-kiat bagaimana cara "menyelundupkan" kamera masuk ke masjid.
Menurut dia, askar selalu menggeledah saku dan dada jemaah. Baik saku baju maupun kantong celana selalu diperiksa. Para petugas keamanan juga selalu menggeledah kantong atau tas yang dicurigai. Jangankan kamera, handphone saja tidak boleh dibawa masuk ke Masjidilharam. Kalaupun boleh dibawa masuk, HP biasanya harus dimatikan.
Kamera foto bisa "diselundupkan" ke dalam Masjidilharam, bisa dengan berbagai cara. Teman saya ada yang dengan menggenggamnya bersama dengan syal atau kain tipis di tangan. Kepalan tangan, sering luput dari pemeriksaan askar. Bahkan, jika punya celana dalam berkantong, simpan saja kamera dalam kantong celana dalam. Asal, kamera digitalnya yang tipis.
Ada pula yang mengikat kamera di pahanya dengan lakban. Askar jarang bahkan tidak mungkin meraba paha jemaah. Teman lain menyarankan membawa buku tebal bertuliskan huruf Arab. Buku itu bagian tengahnya dilubangi berbentuk kotak pas untuk menyimpan kamera digital tipis. Askar pasti menyangka itu buku doa sehingga diperbolehkan dibawa masuk.
Kalau membawa HP yang ada kameranya, alat ini jangan disimpan dalam tas, tapi disimpan dalam saku. Kalau membawa tas biasanya, para askar selalu memprioritaskan pemeriksaan tas, dan tidak memeriksa saku atau bagian lain. Namun kalau tidak membawa tas, saku pun akan diperiksa. Saat masuk, jemaah juga harus tenang. Kalau gugup, askar pasti akan curiga.
Walaupun kamera sudah bisa dibawa masuk ke masjid, jangan sekali-kali jeprat-jepret sembarangan. Perlu teknik agar tidak ketahuan askar. Caranya setelah tawaf dan berdoa dan melakukan kegiatan ibadah lain, nyalakan kamera. Suruh anak, istri atau teman yang akan difoto berbalik ke arah kita. Jika objek sudah berdiri atau duduk membelakangi Kabah, kamera dipegang dirapatkan dengan perut. Usahakan saat kita akan memfoto, seolah terlihat masih sedang berdoa.
Tetap waspada dan lirik kiri kanan, kalau-kalau ada askar yang memerhatikan. Kalau ketahuan, risikonya dihardik dan kamera dibanting. Bidik objek dan ambil gambar beberapa kali dari berbagai sudut dengan mengubah-ubah sudut pengambilan. Dari sekian jepretan, tentu ada satu dua yang pas dan bagus. Waktu yang bagus untuk memotret sebagainya pagi hari antara pukul 8.00-10.00 saat belum begitu banyak jemaah yang sedang tawaf. Selamat mencoba! Pergi ke Mekah selain sangat mahal, penuh pengorbanan dan kesempatannya jarang terulang. Sayang kalau tidak memiliki foto di depan Kabah. (H. Endang S./H. Wawan Dj./"PR")*** Selanjunya...