|
|
|
HAJI Yaya Roesmana, pembimbing dari
KBIH Nurul Huda, memberikan pengarahan kepada jemaah tentang hal-hal
penting terkait ibadah haji di depan Masjid Nabawi, Kota Madinah Arab
Saudi, pada musim haji tahun lalu.*WAWAN
DJUWARNA/"PR"
|
Persoalan meluruskan niat beribadah haji ini menjadi bahan ceramah singkat sejumlah petugas pembimbing ibadah haji tatkala akan meninggalkan Asrama Haji Bekasi, pada Sabtu dan Minggu (17-18/11). Bahkan, ”PR” sempat menyaksikan di sejumlah kamar calhaj di Asrama Haji Bekasi, sering terjadi obrolan hangat antara petugas haji dan para calhaj.
Pernyataan "luruskan niat" sering terdengar pula, tatkala kita menyaksikan acara pelepasan haji atau berkaitan dengan aktivitas dakwah islamiah. Terlebih lagi ketika acara manasik haji, acapkali jemaah calhaj memperoleh materi dari penceramah yang berhubungan dengan niat.
Seorang ibu -- yang sedang mengikuti manasik haji -- mengaku kurang mengerti makna pernyataan Dr. K.H. Miftah Faridl tentang perlunya meluruskan niat sebelum beribadah haji. "Ustaz, apa maksudnya meluruskan niat itu? Apa niat bisa belok?" tanyanya kepada K.H. Miftah Faridl.
Pembimbing utama BPU Haji dan Umroh "Safari Suci" itu pun menjawab, niat beribadah haji harus Lillaahi Ta'ala atau karena semata-mata mencari rida Allah. Jadi, bukan karena ingin meraih gelar haji agar status sosialnya naik atau supaya terkesan menjadi orang saleh.
"Kalau niatnya tidak karena mencari rida Allah, itu disebut niatnya belok atau tidak lurus. Oleh karenanya, mari kita meluruskan niat sejak sekarang," tutur K.H. Miftah Faridl.
Terlepas dari polemik apakah niat itu harus diucapkan secara lisan atau cukup di dalam hati, sejumlah nara sumber "PR" menyatakan hal senada betapa pentingnya para calon haji (calhaj) meluruskan niatnya sejak dini.
Seseorang yang tidak niat, menurut Ir. H.D. Sodik Mujahid, M.Sc., dapat dipahami sebagai orang yang melakukan suatu perbuatan tanpa memiliki kesadaran optimal. Orang tersebut cenderung berbuat asal jadi dan tidak punya tujuan yang jelas. "Kalau niatnya betul, tentu dalam beribadah haji akan punya tujuan yakni meraih haji mabrur. Artinya, ibadah hajinya diterima oleh Allah SWT dan berbekas saat kembali ke tanah air," tutur Sodik.
Pendapat pembimbing BPU Haji dan Umroh Qiblat Tour itu, tak jauh berbeda dengan pandangan H. Rustam Sumarna. Menurut Rustam, semua rukun Islam harus diamalkan dengan penuh kesadaran. Sebagaimana salat, misalnya, harus ditegakkan dalam keadaan sadar. Oleh karenanya, Muslim yang terkena gangguan jiwa tidak dikenai kewajiban menegakkan salat.
"Seandainya sadar terhadap suatu perbuatan, penuh kerelaan, dan punya tujuan jelas, hal tersebut dinamakan niat. Islam mengajarkan segala sesuatu itu bergantung niatnya, innamal 'amalu bin niaat. Nah, niat beribadah haji harus Lillaahi Ta'ala, mencari rida Allah untuk meraih haji mabrur," kata Rustam, pengelola BPU Haji dan Umroh Khalifah.
**
NIAT beribadah haji memang sulit diketahui secara pasti. Boleh jadi, kalau ada 100 calhaj maka ada 100 pula niat yang teraktualisasikan. Ada orang yang niatnya beribadah haji kian kuat, setelah sebelumnya merasa tersudutkan oleh perilaku orang lain.
Hasan (52) -- sebut saja begitu -- seorang pekerja di Bandung menjelaskan sebetulnya dari gaji bulanan dan tunjangan serta penghasilan "TSTG" (ti sisi ti gigir) yang ia dapatkan bisa menutup Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). "Bahkan, saya sering ditawari oleh rekanan untuk bisa berhaji. Tapi, baru tahun ini saya tersadar dan hati merasa 'terbakar' setelah seorang staf bisa berangkat haji," ujarnya.
Ada pula orang yang tertarik beribadah haji setelah mendengar cerita "seru"-nya melakukan "tawaf" di Pasar Seng (suqul-lail). "Bagi seorang wanita mah berbelanja di tanah suci suatu pengalaman menarik apalagi para tetangga, saudara, dan teman-teman juga sudah memesan. Saya buat daftar belanjaan sebelum berangkat haji," katanya.
Baik di Mekah maupun Madinah terdapat banyak pusat perbelanjaan baik pasar tradisional seperti Pasar Seng maupun pasar modern sekelas suburmarkait (supermarket) "Bin Dawood". Belum lagi dengan informasi dari teman-teman yang sudah berhaji konon emas terbaik ada di Madinah. Kualitas emas Madinah berbeda dengan emas di sini.
Sedangkan seorang karyawan di sebuah instansi di Pemda Jabar sebut saja namanya, Pak Fulan, yang ke tanah suci belum lama ini mengaku niat beribadah haji untuk "mengembangkan keturunan". "Saya dan istri sampai sekarang belum dikaruniai penerus keturunan. Semoga dengan menunaikan ibadah haji saya dan istri bisa berdoa di tempat-tempat mustajab agar Allah memberikan keturunan kepada kami," katanya.
Persoalan niat ini menjadi penting, karena -- menurut pembimbing jemaah haji Pesantren Daarut Tauhiid (DT), K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) -- apabila niatnya keliru, pelaksanannya pun keliru. Untuk itulah, seringkali diimbau kepada jemaah haji agar meluruskan niat, menyesuaikan pelaksanaan niat dengan ajaran Alquran dan Alhadis, bertawakal, serta berdoa semoga niat dapat direalisasikan secara baik.
Kiat untuk memperbaiki atau meluruskan niat, ungkapnya, sering ditanyakan oleh jemaah haji DT tatkala berada di tanah suci. Ketika ada acara curhat di tanah suci yang langsung ditangani Aa Gym, sejumlah jemaah haji bertanya soal niat dan upaya meluruskannya agar dapat beribadah haji secara benar.
Di antara jemaah haji, ungkap Aa Gym, ada pula yang bertanya tentang kaitan antara niat, doa, dan peristiwa tertentu selama di tanah suci. Misalnya, ada jemaah yang merasa cemas karena tiba-tiba sakit. Dia bertanya apakah sakitnya itu disebabkan niatnya beribadah haji yang tidak lurus atau tidak benar?
"Terhadap pertanyaan semacam itu, biasanya saya memberi masukan tentang perlunya membersihkan niat, dan memahami bahwa sakitnya seseorang itu semata-mata kehendak dari Allah SWT," ujar Aa Gym. (Suherlan/Achmad Setiyaji/"PR")*** Selanjunya...