Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Tak Terlupakan Terjebak di Tengah "Lautan" Tawaf

JANGAN sekali-kali melakukan tawaf selepas salat Jumat. Selain sinar matahari sedang bersinar sangat terik, juga pada saat itu umat Islam yang melakukan tawaf akan banyak sekali sehingga amat padat. Kalimat tersebut diungkapkan Hj. Cucu Hayati (33) yang melaksanakan ibadah haji tahun 2006. "Saya mendapat amanah untuk ikut mengawal khususnya jemaah haji perempuan," kata wanita berjilbab yang sehari-hari menjadi karyawan Bidang Pelayanan Ibadah dan Haji Pusdai Jabar.

Ditemui "PR" Rabu (28/11), Hj. Cucu mengatakan, ia membawa enam ibu-ibu yang usianya rata-rata di atas 50 tahun atau masuk kategori lanjut usia. "Tinggi ibu-ibu yang saya bawa tersebut, rata-rata sekitar 150 cm. Tubuh mereka juga rata-rata kecil-kecil. Kami benar-benar harus melakukan perjuangan yang sangat berat, karena harus tawaf di tengah ratusan ribu jemaah yang rata-rata berbadan besar dan tinggi," kata Hj. Cucu.
Karena belum pernah pergi ke tanah suci, Hj. Cucu melakukan kesalahan perhitungan saat itu sehingga terjebak saat tawaf. "Padahal, kami semua waktu itu sama-sama belum berpengalaman. Artinya kami semua baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci. Saat tawaf wajib itu, kami benar-benar harus berjuang di tengah orang lain yang sedang tawaf. Saya harus menyelamatkan enam ibu-ibu yang kecil-kecil tadi saat terseret dan terdorong oleh jemaah haji lainnya," katanya.
Hj. Cucu hanya berpikiran untuk bisa menyelamatkan diri dan jemaahnya sehingga selamat dan menyelesaikan tawafnya, ia tak henti-hentinya berdoa "Allahumma yassir wala tu`assir" (Ya Allah mudahkan urusan ini dan jangan dipersulit). "Alhamdulillah ada orang Timur Tengah yang tinggi besar lalu saya ikuti di belakangnya. Dengan cara itu saya dan jemaah bisa menyelesaikan tawaf dengan selamat," ucapnya.
Terseret dan berbenturan dengan jemaah haji lain juga dialami Hj. Cucu ketika membawa dua jemaah perempuan untuk melontar jumrah di Jamarot. "Kedua jemaah saya suruh memegang lengan saya sehingga seorang jemaah memegang lengan kiri dan satunya di lengan kanan. Dengan memohon kepada Allah, saya dan jemaah sedikit demi sedikit mendekati jumrah Aqabah," katanya.
Setelah selesai jumrah dan perjalanan ke tenda di Mina, Hj. Cucu baru merasakan sakit di kedua tangannya. "Setelah sampai tenda saya amati kedua lengan saya ternyata membiru dan terasa amat pegal dan sakit," kata ibu dua anak ini.
Pekerjaan mengawal jemaah yang "bermasalah" dengan fisiknya juga dilakukan Hj. Cucu ketika melaksanakan tawaf wada sebelum meninggalkan Kota Mekah untuk pulang ke tanah air. "Ada seorang jemaah perempuan yang menderita penyakit asam urat sehingga untuk berjalan kaki saja amat susah. Apalagi untuk melaksanakan tawaf tujuh putaran, di tengah jemaah yang masih begitu banyak," katanya.
Sebelum melaksanakan tawaf, Hj. Cucu meyakinkan jemaah tersebut bahwa ia akan mampu menyelesaikan tawaf meski kakinya susah digerakkan. "Dengan berdoa meminta kepada Allah agar tawaf lancar, saya dan jemaah itu memulai tawaf. Awalnya ia harus menyeret salah satu kakinya. Akan tetapi Alhamdulillah, di putaran keempat, ia sudah bisa berjalan normal. Penyakit asam uratnya langsung sembuh," ungkapnya menambahkan. (Sarnapi/"PR")***